Peran Perawat Dalam Pemberian Obat

PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT


BAB I
PENDAULUAN

A.    Latar Belakang
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat - obatan yang aman. Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Sekali obat telah diberikan, perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti,
Daftar Obat Indonesia (DOI), Physicians’ Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia, seperti ahli farmasi, harus dimanfaatkan perawat  jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi, atau reaksi yang merugikan dari pengobatan. Sebelum sesuatu obat diberikan atau dikonsumsi seseorang, obat telah melalui berbagai proses antara lain proses penyediaan, pengolahan, pengijinan, perdagangan, pengorderan, pemblian dan pemakaian. Pada aspek pemberian obat, perawat harus yakin tentang order pengobatan yang dibuat oleh dokter sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan pelaksanannya.

B.     Rumusan Masalah


C.    Tujuan
1.         Agar seorang perawat mengetahui peran apa saja yang harus dimiliki dalam pemberian.
2.         Supaya  perawat dapat menghargai hak-hak pasien dalam pemberian obat.
3.         Agar seorang perawat tidak salah lagi dalam pemberian obat.
4.         Agar perawat memahami apa saja yang perlu di perhatikan dalam pemberian obat.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Peran Perawat dalam Pengobatan
Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar memberikan pil untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah (parenteral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif jika membutuhkan pengobatan.
Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan turut serta bertanggungjawab dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat.

B.     Prinsip Pemberian Obat
1.         Pasien yang Benar
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.
2.         Obat yang Benar
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.
Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
3.         Dosis yang Benar
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya.
4.         Cara/Rute Pemberian yang Benar
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
a.         Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.
b.        Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).
c.         Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
d.        Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.
e.         Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
5.         Waktu yang Benar
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.
6.         Dokumentasi yang Benar
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat

C.    Cara Penyimpanan Obat
1.         Suhu, adalah faktor terpenting, karena pada umumnya obat itu bersifat termolabil (rusak atau berubah karena panas), untuk itu perhatikan cara penyimpanan masing-masing obat yang berbeda-beda. Misalnya insulin, supositoria disimpan di tempat sejuk < 15°C (tapi tidak boleh beku), vaksin tifoid antara 2 – 10°C, vaksin cacar air harus < 5°C.
2.         Posisi, pada tempat yang terang, letak setinggi mata, bukan tempat umum dan terkunci.
3.         Kedaluwarsa, dapat dihindari dengan cara rotasi stok, dimana obat baru diletakkan dibelakang, yang lama diambil duluan. Perhatikan perubahan warna (dari bening menjadi keruh) pada tablet menjadi basah / bentuknya rusak.

D.    Hak Klien yang Berhubungan dengan Pemberian Obat
1.         Hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat.
Hak ini adalah prinsip dari pemberian persetujuan setelah mendapatkan informasi (informed consent) yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat keputusan.
2.         Hak klien untuk menolak pengobatan.
Klien dapat menolak untuk menerima suatu pengobatan. Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan, jika memungkinkan, alasan penolakan dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan. Jika tetap menolak, perawat wajib mendokumentasikan pada catatan perawatan dan melapor kepada dokter yang menginstruksikan.

E.     Kesalahan dalam Pemberian Obat
Kesalahan pemberian obat, selain memberi obat yang salah, mencakup faktor lain yang  mengubah terapi obat yang direncanakan, misalnya lupa memberi obat, memberi obat dua sekaligus sebagai kompensasi, memberi obat yang benar pada waktu yang salah, atau memberi obat yang benar pada rute yang salah.
Jika terjadi kesalahan pemberian obat, perawat yang bersangkutan harus segera menghubungi dokternya atau kepala perawat atau perawat yang senior segera setelah kesalahan itu diketahuinya.

F.     Pendidikan Kesehatan
Secara moral perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga. Pendidikan kesehatan yang perlu diberikan mencakup informasi tentang penyakit kemajuan pasien, obat, cara merawat pasien. Pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan peberian obat yaitu informasi tentang obat efek samping cara minum obat waktu dan dosis.

G.    Peran dalam Mendukung Keefektifitasan Obat
Dengan memiliki pengetahuan yang memadai tentang daya kerja dan efek terapeutik obat, perawat harus mampu melakukan observasi untuk mengevaluasi efek obat dan harus melakukan upaya untuk meningkatkan keefektifitasan obat. Pemberian obat tidak boleh dipandang sebagai pengganti perawatan, karena upaya kesehatan tidak dapat terlaksana dengan pemberian obat saja. Pemberian obat harus dikaitkan dengan tindakan perawatan.
Ada berbagai pendekatan yang dapat dipakai dalam mengevaluasi keefektifitasan obat yang diberikan kepada pasien. Namun, laporan langsung yang disampaikan oleh pasien dapat digunakan pada berbagai keadaan. Sehingga, perawat penting untuk bertanya langsung kepada pasien tentang keefektifitasan obat yang diberikan.

H.    Peran dalam Mengobservasi Efek Samping dan Alergi Obat
Perawat mempunyai peran yang penting dalam mengobservasi pasien terhadap kemungkinan terjadinya efek samping obat.untuk melakukan hal ini, perawat harus mengetahui obat yang diberikan pada pasien serta kemungkinan efek samping yang dapat terjadi. Beberapa efek samping obat khususnya yang menimbulkan keracunan memerlukan tindakan segera misalnya dengan memberikan obat-obatan emergensi, menghentikan obat yang diberikan dan secepatnya memberitahu dokter.
Perawat harus memberitahu pasien yang memakai/ minum obat di rumah mengenai tanda-tanda atau gejala efek samping obat yang harus dilaporkan pada dokter atau perawat. Setiap pasien mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap obat. Beberapa pasien dapat mengalami alergi terhadap obat-obat tertentu. Perawat mempunyai peran penting untuk mencegah terjadinya alergi pada pasien akibat pemberian obat. Data tentang alergi harus diperoleh sewaktu perawat melakukan pengumpulan data riwayat kesehatan.

I.       Trend Issue Pengobatan
Pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati tanaman untuk pengobatan herbal secara alami berdasarkan praktik empiris di Indonesia semakin meningkat. Pengobatan dengan bahan alami digunakan berdasarkan praktis empiris seperti  pencegahan penyakit, meningkatkan kesehatan, penyembuhan penyakit dan sebagai kosmetik. Brotowali, Kumis Kucing, Buah Merah, dan Temulawak merupakan sedikit dari beragam jenis tumbuhan asli Indonesia yang diketahui dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti diare, darah tinggi, diabetes, hiperkolesterorl, hepatitis, asam urat, asma, batu ginjal, reumatik, batu empedu, keputihan, hingga obesitas.
Pemanfaatan tanaman asli Indonesia sebagai bahan pengobatan modern merupakan usaha yang terus harus dilanjutkan untuk menjadikan Indonesia tuan rumah dari pengobatan herbal, Pemanfaatan bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan untuk obat pun sudah diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang pengawasan pemasukan bahan baku obat tradisional.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan keterampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat.

B.     Saran
Perawat harus mengetahui enam hal yang benar dalam pemberian obat kepada pasien. Karena hal itu berperan penting dalam kesuksesan perawat dalam pemberian obat.



DAFTAR PUSTAKA



Diseases: Standards of Personal and Public Hygiene

DISEASES
ASSOCIATED WITH LOW STANDARDS OF
PERSONAL AND PUBLIC HYGIENE


1.      Low standards of hygiene, both personal and public, are responsible for a vast amount of disease everywhere in the world and particularly in the topics where poor living conditions are so common. In the diseases considered here, man is either the sole (satu-satunya) or principle host of the parasites. And transmission results from the contamination of the environment by his excreta or body discharge (kotoran). Theses diseases include such important infections as cholera, anclystomiasis, schistosomiasis, the enteric fevers and dysentery, and also many other less striking infections which are responsible for a great deal of ill-health, disability and even mortality, especially among children. In some diseases unhygienic food habits play as great or even a greater part in transmission then insanitary disposal of human excreta.
2.      These infections present a particularly difficult problem of control – the control of man himself. Their prevalence can be reduced (dikurangi) by the provision (pengadaan) and use of such sanitary facilities as hygienic systems of excreta disposal (pembuangan) and supply of water, preferably to each home, an adequate (cukup) quantity being probably more important than quality. The elimination of faecal contamination of the surface of the soil, of flies and of snails in the schistomiasis areas, will reduce transmissions, and this will be further lowered by the provision of sufficient (mencukupi) living space in houses and improved food hygiene. These measures demand the active co-operation of the people themselves, which only can be about by a process of education over a long period of time. Elimination of these diseases will ultimately depend on raising economic and social standards.
3.      These infections can be divided into four groups: (A) viral, bacterial and protozoal diseases resulting from ingestion of water or food which has been contaminated directly or indirectly with infected human faeces or urine; (B) worm infections in which transmission follows ingestion of either the egg or larval forms of the parasite; (C) worm infections resulting from penetration of the skin by immature stages of the parasites; (D) bacterial diseases due to the consumption of foodstuffs infected from human or animal sources and commonly reffered to as food poisoning (keracunan). In this reading selection, one of the diseases from group A, Cholera, will be discussed.
4.      The diseases of the four groups are limited to man and are maintained in the human community by insanitary living habits. The causative organism leaves the human body in the excreta and the new host is parasitized by ingestion on infected faeces conveyed to its mouth in a number of ways, the most common vehicles of transmission being contaminated hands, food, and water. The epidemiological patterns of these diseases are thus broadly similar.
5.      CHOLERA. This is an acute specific infection of the alimentary tract (system pencernaan) caused by Vibrio Cholerae   and characterized by sudden onset, toxaemia, vomiting and frequent copious water evacuations from the bowel (buang air besar), resulting in rapid  (cepat) and extreme dehydration. In children fluid is often kept in paralysed ileus and little may be evacuated (cholera sicca).
6.      THE PARASITE. Vibrio Cholerae, or ‘commas bacillus’, is a minute, motile curved (melengkung) organism, flagellated, and gram-negative on staining. It is identified by culture, serological methods, and phage typing. The E1 Tor biotype, the principal organism, as isolated the present epidemic, produces infections clinically and epidemiologically indistinguishable from that of the  type strain. It is, however, resistant to group IV cholera phage, is less affected by environmental conditions, and may give rise to a chronic carrier state. The type strains rarely persist in the intestine for as long as three weeks.
7.      EPIDEMIOLOGY. Man is the only reservoir of infection and is thus solely responsible for its maintenance in a community. The disease persists in endemic areas where sporadic cases of cholera occur almost continually throughout the year, associated with a low mortality possibly as a result of immunity acquired (terdapat) by repeated mild infections.
8.      DIAGNOSIS. Cholera is a serious disease that spreads (menyebar) rapidly, and preventive action must be taken upon clinical diagnosis. This may be easy during an epidemic, but sporadic, atypical (tidak teratur; tidak khas), and mild cases may be difficult to recognize. A clinical diagnosis can be confirmed by direct examination of a stool (kotoran) specimen in a dark ground preaparation. If organism showing the typical motility of vibrios are seen, a specimen can be prepared  to which is added specific anti-serum; the cessation of motility in 3-5 minutes confirms the identity of the organism.
9.      CONTROL. Early detection, isolation and treatment of cases, suspected cases and their contacts, and the control of the contaminated environment are the basic measure of prevention.
Immediately after the disease is suspected, the patient should be isolated in a treatment centre where the diagnosis can be confirmed within minutes by the dark ground, agglutinating (yang melekatkan) serum technique. Treatment should be started at once by replacing fluid and electrolytes. With this should be given eight oral doses of 500 mg of tertracycline which will reduce diarrhoe and eliminate (menghilangkan) the vibrios. This treatment will shorten the duration of the convalescent carrier state, reduce transmission, and speed of the flow of patients through the centre.

10.  QUESTION LEADING TO DISCUSSION
      1.      What is responsible for a vas amount of disease in the topics?
      2.      What diseases are caused by contamination of the environment by man’s excretions?
      3.      What is the most important factor in controlling such diseases?
      4.      Explain what cholera and how the infection is transferred to man!
      5.      Name some characteristics of cholera.
      6.      What is the ileus?
      7.      In the past how did cholera spread from endemic centers in Asia to the rest of the world?
      8.      How can an explosive epidemic of cholera occur?
      9.      What is the basic measure of the prevention of cholera?
      10.  What is the preliminary treatment as soon as a patient is diagnosed as having cholera?
      11.  How do you think food hygiene can be improved?
      12.  Do you know where the endemic centers of cholera are in Jakarta/your city?
      13.  What measures are usually taken when cholera appears to be endemic in a certain area?
      14.  State briefly how raising economic and social standards  will help prevention of cholera?

Komunikasi Terapeutik dan Intrapersonal Perawat Klien

KOMUNIKASI TERAPEUTIK DAN INTRAPERSONAL PERAWAT KLIEN


A.    Komunikasi Terapeutik
1.         Definisi Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien. Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
2.         Tujuan Komunikasi Terapeutik
a.         Realisasi diri dan penerimaan diri.
b.        Identitas diri yang jelas dan integritas tinggi
c.         Kemampuan membina hubungan interpersonal
d.        Peningkatan fungsi dan kemampuan memenuhi kebutuhan dan tujuan personal yang realistis.
Tujuan terapeutik akan tercapai jika Perawat memiliki karakteristik sebagai berikut: 
a.         Kesadaran diri terhadap nilai yang dianutnya
b.        Kemampuan untuk menganalisa perasaannya sendiri.
c.         Kemampuan untuk menjadi contoh peran
d.        Altruistik
e.         Rasa tanggung jawab etik dan moral
f.         Tanggung jawab
3.         Fungsi Komunikasi Terapeutik
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.
4.         Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik
a.         Kejujuran (Trustworthy)
b.        Ekspresif dan tidak membingungkan agar tidak terjadi kesalahpahaman
c.         Bersikap positif
d.        Empati, bukan simpati
e.         Melihat permasalahan dari kacamata pasien
f.         Menerima pasien apa adanya
g.        Sensitive terhadap perasaan pasien
h.        Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu pasien
5.         Karakteristik Komunikasi Terapeutik
Karakteristik Komunikasi Terapeutik Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut:
a.         Ikhlas (Genuiness)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.
b.        Empati (Empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
c.         Hangat (Warmth)
Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.
6.         Fase Hubungan Komunikasi Terapeuti
a.         Orientasi (Orientation)
Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and goals, clarification of roles dan contract formation.
b.        Kerja (Working)
Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.
c.         Penyelesaian (Termination)
Paa fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan
7.         Teknik Komunikasi Terapeutik
a.         Mendengarkan
Perawat harus berusaha untuk mendengarkan informasi yang disampaikan oleh klien dengan penuh empati dan perhatian. Ini dapat ditunjukkan dengan memandang kearah klien selama berbicara, menjaga kontak pandang yang menunjukkan keingintahuan, dan menganggukkan kepala pada saat berbicara tentang hal yang dirasakan penting atau memerlukan ummpan balik. Teknik dimaksudkan untuk memberikan rasa aman kepada klien dalam mengungkapkan perasaan dan menjaga kestabilan emosi klien.
b.        Menunjukkan penerimaan
Menerima bukan berarti menyetujui, melainkan bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan sikap ragu atau penolakan. Dalam hal ini sebaiknya perawat tidak menunjukkan ekspresi wajah yang menunjukkan ketidaksetujuan atau penolakan. Selama klien berbicara sebaiknya perawat tidak menyela atau membantah. Untuk menunjukkan sikap penerimaan sebaiknya perawat menganggukkan kepala dalam merespon pembicaraan klien.
c.         Mengulang Pernyataan Klien
Dengan mengulang pernyataan klien, perawat memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya mendapat respond an berharap komunikasi dapat berlanjut. Mengulang pokok pikiran klien menunjukkan indikasi bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.
d.        Klarifikasi
Apabila terjadi kesalahpahaman, perawta perlu mengehentikan pembicaraan untuk meminta penjelasan dengan menyamakan pengertian. Ini berkaitan dengan pentingnya informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan. Klarifikasi diperlukan untuk memperoleh kejelasan dan kesamaan ide, perasaan, dan persepsi.
e.         Memfokuskan Pembicaraan
Tujuan penerapan metode ini untuk membatasi materi pembicaraan agar lebih spesifik dan mudah dimengerti. Perawat tidak perlu menyela pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah penting kecuali apabila tidak  membuahkan informasi baru.
f.         Menyampaikan Hasil Pengamatan
Perawat perlu menyampaikan hasil pengamatan terhadap klien untuk mengetahui bahwa pesan dapat tersampaikan dengan baik. Perawat menjelaskan kesan yang didapat dari isyarat nonverbal yang dilakukan oleh klien. Dengan demikian akan menjadikan klien berkomunikasi dengan lebih baik dan terfokus pada  permasalahan yang sedang dibicarakan.
g.        Menawarkan Informasi.
Penghayatan kondisi klien akan lebih baik apabila ia mendapat informasi yang cukup dari perawat. Memberikan informasi yang lebih lengkap merupakkan pendidikan kesehatan bagi klien. Apabila ada informasi yang tidak disampaikan oleh dokter, perawat perlu meminta penjelasan alasannya. Perawat dimungkinkan untuk memfasilitasi klien dalam pengambilan keputusan, bukan menasihatinya.
h.        Diam
Dengan diam akan terjadi proses pengorganisasian pikiran dipihak perawat dan klien. Penerapan metode ini memerlukan ketrampilan dan ketepatan waktu agar tidak menimbulkan ketrampilan dan ketepatan waktu agar tidak menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien berkomunikasi dengan dirinya sendiri, menghimpun pikirannya, dan memproses informasi.
i.          Menunjukkan Penghargaan
Menunjukkan penghargaan dapat dinyatakan dengan mengucapkan salam kepada klien, terlebih disertai menyebutkan namanya. Hal ini akan diterima oleh klien sebagai suatu penghargaan yang tulus. Dengan demikian klien merasa keberadaannya dihargai.
j.          Refleksi
Reaksi yang muncul dalan komunikasi antara perawat dan klien disebut refleksi. Refleksi dibedakan dalam dua klasifikasi:
1.        Refleksi isi bertujuan mensahkan sesuatu yang didengar. Klarifikasi ide yang diungkapkan oleh klien dan pemahaman perawat tergolong dalam klasifikasi refleksi ini.
2.      Ungkapan yang bertujuan memberi respon terhadap ungkapan perasaan klien tergolong dalam refleksi perasaan. Refleksi ini bertujuan agar klien dapat menyadari eksistensinya sebagai manusia yang mempunyai potensi sebagai manusia yang mempunyai potensi sebagai individu yang berdiri sendiri.
8.         Sikap Komunikasi Terapeutik
a.         Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
b.        Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c.         Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
d.        Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
e.         Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.
8.         Sikap Komunikasi Terapeutik
a.         Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
b.        Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c.         Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
d.        Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
e.         Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.

B.     Kesadaran Intrapersonal Perawat Klien
1.         Kesadaran Diri
Kesadaran dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami dirinya sendiri, baik perilaku, perasaan dan pikirannya sendiri.
Untuk dapat mengetahui sampai dimana kesadaran diri sendiri, maka perawat haruslah dapat menjawab pertanyaan “Siapakah saya?” perawat seperti apakah saya?”
Ada empat komponen kesadaran diri yang saling berkaitan terdiri dari komponen psikologis, fisik , lingkungan dan psikologis :
a.         Komponen psikologis, meliputi pengetahuan tentang emosi, motivasi, konsep diri dan kepribadian.
b.        Komponen fisik, terdiri dari pengetahuan tentang kepribadian dan fisik secara umum yang meliputi juga sensasi tubuh, gambaran diri dan potensi fisik.
c.         Komponen lingkungan, terdiri dari lingkungan sosiokultural, hubungan dengan orang lain, dan pengetahuan tentang hubungan antara manusia dan alam.
d.        Komponen filosofi, mencakup arti hidup bagi sesorang , komponen filosofi akan menjelaskan tentang arti hidup itu bagi seseorang.
Keempat komponen tersebut secara bersama – sama digunakan sebagai alat untuk meningkatkan keesadaran diri dan pertumbuhan bagi perawat dan klien.
1
Diketahui oleh diri sendiri dan orang lain
2
Hanya diketahui oleh orang lain
3
Hanya diketahui oleh diri sendiri
4
Tidak diketahui oleh siapapun
a.         Kuadran satu disebut kuadran terbuka karena tingkah laku, perasaan dan pikiran seseorang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.
b.        Kuadran kedua disebut kuadran buta karena tingkah laku, perasaan dan pikiran seseorang diketahui oleh orang lain tapi dirinya sendiri tidak tahu.
c.         Kuadran ketiga adalah kuadran tersembunyi karena tingkah laku, perasaan dan pikiran seseorang tentang diri, dimana hanya individu sendiri yang tahu.
d.        Kuadran keempat adalah kuadran yang tidak diketahui yang berisi aspek yang tidak diketahui oleh diri dan orang lain.
2.         Klarivikasi Nilai
Perawat harus mampu menjawab, apa yang penting untuk saya? Kesadaran membantu perawat untuk sayang dan tidak menjauhi pasien dan membantu sesuai dengan kebutuhannya. Walaupun hubungan perawat – klien merupakan hubungan timbal balik, tetapi kebutuhan klien selalu di utamakan. Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan klien untuk kepuasan dan keamanannya.
Jika perawat mempunyai konflik, ketidakpuasan, sebaiknya perawat menyadari dan mengklarifikasi agar tidak mempengaruhi keberhasilan hubungan perawat – klien. Dengan menyadari sistem nilai yang dimiliki perawat, misalnya kepercayaan, seksual, ikatan keluarga, perawat akan siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan sistem nilai yang dimiliki.
3.         Eksplorasi Perasaan
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya, dan mengontrolnya agar ia dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (Stuart dan Sundeen, 1987,h.102).
Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia mendapatkan dua informasi penting yaitu bagaimana responnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien. Sewaktu berbicara dengan klien, perawat harus menyadari responnya dan mengontrol penampilannya.
4.         Kemampuan Menjadi Model (Role Model)
Perawat yang mempunyai masalah pribadi, seperti ketergantungan obat, hubungan interpersonal yang terganggu, akan mempengaruhi hubungannya dengan klien (Stuart dan Sundeen, 1987, h.102)
Perawat yang efektif adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distres atau pengingkaran dan memperlihatkan perkembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat diharapkan bertanggung jawab atas perilakunya, sadar akan kelemahan dan kekurangannya.
5.         Altruisme
Perawat harus dapat menjawab, mengapa kamu ingin menolong orang lain? helper yang baik harus interes dengan orang lain dan siap menolong dengan cara mencintai dari manusia tersebut. Secara benar bahwa seseorang selama hidupnya membutuhkan kepuasan dan penyelesaian dari kerja yang dilakukan. Tujuannya mempertahankan keseimbangan antara kedua kebutuhan tersebut.
6.         Etik dan Tanggung Jawab
Keyakinan diri pada seseorang dan masyarakat dapat memberikan berupa kesadaran akan petunjuk untuk melakukan tindakan. Kode untuk perawat umumnya menampilkan penguatan nilai hubungan perawat-klien dan tanggung jawab dan pemberian pelayanan yang merupakan rujukan untuk semua perawat dalam memberikan penguatan untuk kesejahteraan pasien dan tanggung jawab sosial. Pilihan etik bertanggung jawab dalam menentukan pertanggung jawaban, risiko, komitmen dan keadilan.

Hubungan perawat dengan etik adalah kebutuhan akan tanggung jawab untuk merubah perilaku. Dimana harus diketahui batasan dan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki. Juga dilakukan oleh anggota tim kesehatan, perawat yang setiap waktu siap untuk menggali pengetahuan dan kemampuan dalam menolong orang lain; sumber-sumber yang digunakan guna dipertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna (1996). Hubungan Terapeutik Perawat Klien. Bandung
MH. Pribadi Zen (2013). Panduan Komunikasi Efektif Untuk Bekal Keperawatan Profesional. Jogjakarta: D-Medika
Stuart dan Sundeen (1998). Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta